Sat. Apr 13th, 2024
Dari Kanan ke Kiri: Vice President Strategi Investasi PLN, Iwan S. Triawan, Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN, Hartanto Wibowo, EVP Pengembangan Bisnis Korporat dan Investasi PLN, Sapto Aji Nugroho, CEO dan Co-founder Rekosistem, Ernest Layman, Managing Partner Impactto, Italo Gani, Vice President Inovasi Teknologi dan Inkubasi Bisnis Korporat PLN, Tri Hardimasyar, Manajer Inkubasi Bisnis Korporat Ardo Situmorang saat melakukan kunjungan ke salah satu fasilitas waste station yang dikelola startup waste management bernama rekosistem di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan. FOTO DOK PLN

energikita.id – PT PLN (Persero) siap berkolaborasi dengan empat startup yang telah terpilih pada program Connext powered by PLN. Lewat program yang dimulai sejak Mei 2023 ini, PLN melakukan inkubasi dan kolaborasi dengan startup untuk pengembangan bisnis di sektor energi dan kelistrikan. Ke-empat startup terpilih pada tahap awal program Connext ini adalah Fresh Factory, Amoda, Kanggo dan Imajin.


Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan, dengan diluncurkannya program Connext, harapannya bagi startup yang terpilih dapat bersinergi dan berkolaborasi sepanjang program ini berlangsung.


“Melalui program Connext, kami menyampaikan dukungan penuh kepada startup terpilih yang akan belajar dan bergabung dengan ekosistem PLN. Ini merupakan bentuk kolaborasi PLN dengan startup yang bertujuan mengubah tantangan global terkait disrupsi teknologi menjadi peluang,” ucap Darmawan.


Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis Hartanto Wibowo menambahkan Program Connext powered by PLN ini terbagi menjadi dua program, yakni inkubasi dan kolaborasi yang ditujukan untuk segmen startup berbeda.


Pertama, program inkubasi ditujukan untuk startup tahap awal yang tertarik untuk belajar dan bergabung dengan ekosistem PLN. Program ini akan menawarkan pelatihan dan pembinaan one on one untuk meningkatkan pemahaman bisnis dan kinerja startup peserta. Kedua, program kolaborasi yang ditunjukkan kepada startup tahap lanjut dengan tujuan akhir melakukan kolaborasi bisnis dengan PLN.


“Program inkubasi dan kolaborasi startup ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas pelayanan, pengembangan teknologi, dan pengembangan model bisnis yang lebih berkelanjutan,” ungkapnya.


Hartanto menambahkan, bagi para peserta Connext yang telah lolos seleksi akan menjalani masa inkubasi hingga Oktober 2023. Adapun, fasilitas yang didapatkan inkubasi startup, antara lain proses diagnosa agar startup bisa mencapai product-market fit, mengadakan group coaching dengan para mentor secara hybrid, serta ada sesi mentoring antara mentor dengan startup secara daring.


“Kegiatan ini terdiri dari, diagnosa sektor bisnis dan perusahaan startup secara daring, sesi one on one dengan coach untuk fokus membahas kolaborasi strategi produk, tim, teknologi, skill bisnis, dan marketing. Nanti pada puncak acara atau demo day, dimana para peserta akan mempresentasikan ide produk yang akan dikolaborasikan dengan ekosistem PLN,” tambahnya.


Selepas dari program inkubasi, para peserta startup diharapkan sudah siap untuk mengeksplorasi lebih lanjut kesiapan produk dan layanannya untuk bersinergi dengan ekosistem PLN.


“Melalui program inkubasi dan kolaborasi bersama dengan startup terpilih, kami berharap upaya ini mampu menciptakan sinergi untuk mendukung pengembangan teknologi dan model bisnis yang lebih inovatif serta berkelanjutan dalam sektor energi kelistrikan,” ungkap Hartanto.


Program Connext ini fokus berkolaborasi dengan startup yang berada di sektor bisnis consumer dan berhubungan dengan energi seperti ekosistem kendaraan listrik, pengoptimalan bisnis dengan teknologi kelistrikan (khususnya untuk sektor teknologi agrikultur, teknologi food and beverages, cold chain, dan manufaktur), energi hijau, dan model shared-economy (pergudangan dan stasiun pengisian listrik kendaraan).


Adapun keempat startup terpilih memiliki perkembangan bisnis masing-masing. Fresh Factory misalnya, perusahaan rintisan ini bergerak di bidang bisnis online food & groceries dengan layanan cold storage atau manajemen penyimpanan makanan dan bahan makanan beku, serta layanan pemilihan produk, pengemasan produk, hingga pengiriman produk ke pelanggan via kurir.


Sedangkan, Kanggo merupakan startup di bidang on demand services untuk membantu perbaikan bangunan konsumen dengan mudah, cepat dan nyaman melalui satu aplikasi. Pekerjaan perbaikan bangunan dilakukan oleh tukang terkualifikasi sehingga Kanggo secara aktif membantu para pekerja profesi tukang untuk berkompetisi di era digital. 


Senada dengan Kanggo, startup Amoda juga sebuah perusahaan startup di bidang properti dan konstruksi di Indonesia. Perusahaan rintisan ini membantu kebutuhan pelanggannya di bidang manajemen properti dan konstruksi dimana Amoda menjadi penyedia platform yang mempertemukan demand dan supply untuk pemanfaatan aset-aset komersial, perkantoran bahkan fasilitas publik dan SPKLU di seluruh Indonesia.


Sedangkan Imajin, adalah startup yang bergerak dalam industri manufaktur penyedia platform yang mempertemukan demand dan supply dengan memberikan software as a service dan juga quality assurance, _ mulai dari desain, pembuatan _molds, dies, sampai ke produksi massal untuk pekerjaan logam maupun plastik.(*)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *