Fri. Apr 19th, 2024
Foto Dok PLN

energikita.id – PT PLN Nusantara Power sebagai subholding dari PT PLN (Persero) terus meningkatkan produksi energi bersih di sektor pembangkitan. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah dengan meningkatkan penerapan co-firing untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dikelolanya. 


Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan, PLN terus melakukan inovasi dalam melakukan transisi energi. Ini dilakukan demi menghadirkan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. 


“Dengan berbagai extraordinary effort di antaranya melalui biomass co-firing, kami berhasil menekan emisi gas rumah kaca. Selain itu, inovasi ini juga meningkatkan bauran EBT di lingkungan pembangkit PLN,” ungkap Darmawan. 


Pada kesempatan berbeda, Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah menjelaskan memasuki triwulan pertama di tahun 2023, PLN Nusantara Power telah menyumbangkan 19.902 Megawatt hour (MWH) energi bersih dari co-firing. Sebagian besar energi bersih tersebut disumbangkan oleh PLTU Paiton 1-2 dan PLTU Paiton 9 dengan total daya mencapai 8.852,64 MWh.


“Selain pengembangan unit pembangkit berbasis EBT, perlu strategi yang tepat untuk mendorong produksi energi bersih pada PLTU yang ada. Dengan pencapaian ini, kami harap dapat meningkatkan persentase bauran co-firing di lingkungan pembangkitan PLN,” terang Ruly. 


Sebelumnya, pada tahun 2022, PLN Nusantara Power telah melampaui target produksi energi bersih dari co-firing hingga 178,32 persen. PLN Nusantara Power mampu memproduksi energi bersih sebesar 250,39 Gigawatt hour (GWh) dari target 140,42 GWh.


“Ini dapat dicapai berkat inovasi yang dilakukan perusahaan dan sinergi antar instansi yang baik. Pemanfaatan biomassa ini sekaligus menjadikan pembangkit PLN episentrum pendayagunaan ekonomi kerakyatan,” jelas Ruly. 


Ruly mengungkapkan bahwa PLN Nusantara Power telah melakukan studi terkait co-firing sejak 2018 dan telah mengujicobakan co-firing pada 16 PLTU di Jawa dan luar Jawa. Seperti di PLTU Paiton yang kini telah berhasil melakukan co-firing hingga 6 persen.


Dirinya juga menjelaskan bahwa alasan PLN Nusantara Power menggalakkan co-firing karena inovasi ini merupakan salah satu langkah tepat dalam implementasi green energy. Co-firing merupakan teknik substitusi dalam pembakaran PLTU, di mana sebagian batu bara untuk pembakaran diganti sebagian dengan bahan lainnya, salah satunya biomassa.


“Tidak hanya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap, co-firing juga dapat menjadi solusi permasalahan sampah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” tambah Ruly. 


Untuk mendukung kemajuan co-firing, PLN Nusantara Power telah menjalin kerja sama dengan dua perusahaan asal Jepang, yaitu Sumitomo Heavy Industries (SHI) serta Mitsubishi Heavy Industries (MHI). 


Kerja sama dengan SHI melingkupi kajian pada mesin pembangkit boiler tipe CFB pada PLTU Paiton. Berlangsung sejak Desember 2019, kerja sama dan kajian ini mempersiapkan tahap awal co-firing PLTU Paiton pada persentase 30-50 persen. Sedangkan kerja sama dengan MHI berfokus pada mesin pembangkit PLTU Paiton dengan jenis boiler PC dengan biomassa sawdust serta PLTGU Muara Karang (Jakarta) dengan biomassa hidrogen. 


“Jika memungkinkan, secara bertahap akan kontinyu dan diujicobakan hingga mencapai 100 persen co-firing biomassa di PLTU kami,” tutup Ruly.(*)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *