Thu. Jun 11th, 2026
Nelayan Desa Kuala Satong memanen ikan bandeng hasil budidaya silvofishery di kawasan mangrove. Program yang didukung PLN melalui TJSL ini menjadi wujud sinergi antara pemberdayaan ekonomi masyarakat dan upaya pelestarian lingkungan pesisir secara berkelanjutan.(FOTO/DOK/PLN)

energikita.id – PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ketapang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan *Panen Perdana Ikan Bandeng Hasil Budidaya Silvofishery di Desa Kuala Satong*, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, pada Jumat (5/6).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi PLN bersama Mitra Pembangunan Ketapang (MPK), Pemerintah Kabupaten Ketapang, Pemerintah Desa Kuala Satong, kelompok nelayan, kelompok perempuan peduli mangrove, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan model pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi lingkungan.

Kegiatan ini turut dihadiri Manager PLN UP3 Ketapang, Yusrizal Ibrani, Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ketapang, MF. Yuliansyah, ST., MM., Direktur Mitra Pembangunan Ketapang, Donatus Rantan, Pemerintah Desa Kuala Satong, Kelompok Nelayan Usaha Bersama “Langit Biru”, Kelompok Perempuan Peduli Mangrove, tokoh masyarakat, serta berbagai stakeholder terkait.

Program silvofishery yang dijalankan mengintegrasikan budidaya perikanan dengan pelestarian ekosistem mangrove sehingga mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh sumber pendapatan baru, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kawasan mangrove sebagai benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan dampak perubahan iklim.

Manager PLN UP3 Ketapang, Yusrizal Ibrani, menjelaskan bahwa panen perdana ini merupakan capaian penting dari proses pendampingan yang telah dilakukan PLN bersama masyarakat dalam beberapa bulan terakhir.

“Panen perdana ini menjadi indikator bahwa model budidaya silvofishery yang kami kembangkan bersama masyarakat dapat berjalan dengan baik. Selain menghasilkan komoditas perikanan yang bernilai ekonomi, program ini juga mendorong masyarakat untuk menjaga keberadaan mangrove sebagai bagian penting dari ekosistem pesisir. Kami melihat antusiasme dan partisipasi masyarakat yang sangat tinggi, mulai dari proses penanaman mangrove, pengelolaan tambak, hingga pemanenan. Ke depan, kami berharap produktivitas budidaya dapat terus meningkat sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi kelompok masyarakat penerima manfaat,” ujar Yusrizal.

Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Ketapang, MF. Yuliansyah, ST., MM., mengapresiasi sinergi yang dibangun PLN dalam mendukung pengembangan sektor perikanan berbasis konservasi.

“Program silvofishery di Desa Kuala Satong merupakan contoh praktik pembangunan berkelanjutan yang mampu mengharmoniskan kepentingan ekonomi dan lingkungan. Kami mengapresiasi PLN beserta seluruh pihak yang telah berkolaborasi sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian kawasan mangrove yang menjadi aset penting daerah pesisir,” katanya.

Sementara itu, General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria G.I. Gunawan, menegaskan bahwa program silvofishery merupakan bagian dari strategi TJSL PLN dalam menciptakan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan sejalan dengan (Sustainable Development Goals/SDGs) 

“PLN meyakini bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Program silvofishery di Kuala Satong menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi multipihak mampu menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir sekaligus memperkuat perlindungan ekosistem mangrove. Melalui TJSL, PLN terus berkomitmen menghadirkan program yang bersifat transformatif, mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan lingkungan, serta mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Barat,” ujar Maria.

Maria menambahkan Keberhasilan panen perdana ikan bandeng ini diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan usaha perikanan ramah lingkungan yang terintegrasi dengan upaya konservasi mangrove. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, model silvofishery juga berpotensi menjadi contoh pengelolaan kawasan pesisir berkelanjutan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lainnya.(*)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *