
Aparat kepolisian melakukan pengamanan dan berusaha menenangkan massa yang diperankan oleh peserta simulasi dalam skenario aksi unjuk rasa sebagai bagian dari latihan penanganan keadaan darurat.(FOTO/DOK/PLN) |
energikita.id – Pagi itu, suasana di Kantor PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Ngabang mendadak berubah. Sirine meraung kencang, kepulan asap membubung dari halaman, dan pegawai berhamburan menuju titik kumpul darurat. Sebagian tampak sigap mengevakuasi rekan kerja yang berpura-pura menjadi korban. Sekilas, pemandangan tersebut menegangkan, seolah sebuah bencana tengah terjadi. Namun, bukan musibah yang melanda, melainkan Simulasi Gawat Darurat yang digelar dengan penuh keseriusan dan semangat kebersamaan.
PLN ULP Ngabang yang berada di bawah wilayah kerja PLN UP3 Mempawah ini menggelar simulasi pada Rabu (27/8). Latihan ini bukan simulasi biasa. Sejumlah skenario ekstrem dirancang untuk menguji kesiapan personel, mulai dari unjuk rasa anarkis, ancaman bom, kebakaran besar, penyanderaan, hingga penanganan kecelakaan kerja. Semua dibuat sedekat mungkin dengan kondisi nyata, sehingga setiap pegawai benar-benar diuji ketanggapan, kecepatan, dan kekompakannya.
“Awalnya terasa tegang, tapi di situlah letak pembelajaran. Kita sadar bahwa dalam kondisi darurat, yang terpenting adalah sigap, kompak, dan saling mendukung,” ungkap salah seorang pegawai ULP Ngabang usai mengikuti simulasi.
Sejak pagi hingga siang, puluhan pegawai terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan. Tidak hanya melalui table-top exercise di ruang rapat, tetapi juga langsung terjun ke lapangan. Semua lini ikut terlibat dari tim keamanan, layanan pelanggan, teknisi, hingga manajemen dengan berpedoman pada Emergency Response Plan (ERP) dan Business Continuity Management (BCM).
Manager PLN UP3 Mempawah, Abdul Azis P, menegaskan bahwa latihan ini merupakan investasi penting untuk membangun kesiapan mental dan prosedural seluruh pegawai.
“Kami ingin semua orang terbiasa menghadapi skenario terburuk. Simulasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan latihan serius yang melibatkan internal PLN dan instansi eksternal agar ketika krisis benar-benar datang, koordinasi berjalan mulus,” jelas Azis.
Semangat semakin terasa dengan keterlibatan sejumlah instansi eksternal, seperti Ditpamobvit Polda Kalbar, Polres Landak, Damkar Pol PP Landak, serta tim medis PMI Landak. Kolaborasi ini membuat simulasi semakin realistis sekaligus menegaskan pentingnya kerja sama lintas lembaga dalam menjaga keamanan dan keandalan layanan publik.
“Sebagai penyedia layanan strategis, PLN harus tangguh bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dalam menghadapi ancaman non-teknis. Latihan terpadu seperti ini menjadi wujud keseriusan kami menjaga layanan tetap andal sekaligus memastikan keselamatan pegawai,” tambah Azis penuh keyakinan.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi menyeluruh oleh Ditpamobvit Polda Kalbar, yang berfokus pada identifikasi celah, perbaikan kekurangan, serta penguatan SOP pengamanan. Setiap catatan dipandang sebagai peluang untuk menjadi lebih baik, bukan sebagai kelemahan.
General Manager PLN UID Kalbar, Maria G.I. Gunawan, menegaskan bahwa simulasi gawat darurat adalah bagian dari strategi perusahaan membangun resiliensi operasional di tengah tantangan yang semakin kompleks.
“PLN tidak hanya dituntut andal dalam menjaga pasokan listrik, tetapi juga harus tangguh menghadapi berbagai potensi krisis. Melalui simulasi ini, kami memastikan seluruh pegawai siap secara mental, prosedural, dan koordinatif untuk merespons dengan cepat dan tepat. Inilah komitmen kami dalam menjaga keberlanjutan layanan publik sekaligus kepercayaan masyarakat,” tegas Maria.
Simulasi gawat darurat di ULP Ngabang ini menjadi bukti nyata bahwa kesiapan lahir dari latihan, dan ketangguhan lahir dari kebersamaan. Dengan semangat itu, PLN optimistis mampu menghadapi segala bentuk krisis demi menghadirkan listrik yang andal, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat.(*)