Sat. Apr 13th, 2024
Foto Dok PLN

energikita.id – Cuaca ekstrim sejak awal Maret sebabkan banjir dan rendam 13 Kecamatan dan 15 Desa di Kabupaten Sambas. Sebanyak 15.740 rumah warga terendam banjir, 149 keluarga yang terdampak banjir parah terpaksa diungsikan. PLN UID Kalbar melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) bergerak cepat salurkan bantuan paket sembako untuk para pengungsi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daeran (BPBD) Kabupaten Sambas.


“Kami turut prihatin terhadap kondisi warga yang terdampak banjir. Kami berharap, bantuan yang diberikan dapat membantu masyarakat yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, karena rumah mereka masih terendam air,” ungkap Mochamad Soffin Hadi, General Manager PLN UID Kalbar.


Soffin juga menjelaskan, untuk keamanan warga yang terdampak banjir, pihaknya terpaksa memutus aliran listrik sementara di beberapa lokasi yang kondisi banjirnya cukup parah dan berpotensi menimbulkan kecelakaan listrik. Upaya penormalan aliran listrik akan segera dilakukan jika kondisi sudah benar-benar aman dan kondusif.


“Apabila warga ingin melaporkan gangguan listrik atau melihat potensi terjadinya gangguan listrik dapat segera melaporkan lewat aplikasi PLN Mobile,” ujar Soffin.


Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sambas, Efizar, menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan PLN.


“Atas nama warga yang terdampak banjir, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala perhatian dan  bantuan yang telah diberikan. Bantuan sembako ini pastinya sangat berguna bagi warga yang terdampak banjir,” tutur Efizar.


Hingga berita ini diturunkan, kondisi air beberapa desa masih belum surut, salah satunya Desa Sepantai, Kecamatan Sejangkung. Ketinggian air hingga separuh rumah dan masyarakat tidak bisa melakukan aktivitas sehingga butuh bantuan.


Bantuan yang sangat diharapkan saat ini adalah sembako dan kebutuhan bayi. 


“Bantuan terus kami harapkan karena kita tidak tahu sampai kapan banjir akan surut. Untuk pemulihan, kami juga butuh waktu untuk memperbaiki dan membersihkan rumah, sebelum kembali bekerja secara normal,” kata Salman, salah seorang warga Desa Sepantai.(*)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *